Antologi Pentigraf 21 September 2019

Menyesal
Oleh Arina Zakiah A*

Namaku Zalyn. Hari ini aku akan pergi bersama keluargaku ke sebuah tempat wisata yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Aku sangat antusias. Berulang kali aku mengecek barang bawaanku. Ini akan sangat seru. Pikirku.

Saat di perjalanan, perutku mulai berbunyi tanda bahwa aku sedang kelaparan. Padahal, tadi pagi aku sudah makan satu piring penuh. Tapi, perutku masih saja lapar. Tak lama berselang, bola mataku menangkap sesuatu di balik kantong kursi bus di hadapannku. Batinku penasaran.

Aku menemukan satu bungkus roti. Aku bertanya pada Kak Fina, kakak perempuanku satu-satunya. Namun, Kak Fina mengatakan bahwa roti itu bukan hak ku dan akupun tak boleh memakannya. Aku menimbang-nimbang cukup lama. Hingga akhirnya, roti itu tetap kumakan. Sialnya, saat turun dari bus, aku justru kehilangan boneka kesayanganku. “Makanya, jangan makan sesuatu yang bukan milikmu. Sekarang kamu tau kan akibatnya?” ucap Kak Fina. Aku mengangguk. Aku tak akan mengulanginya lagi. Aku janji. (aza)

Singosari, 21 September 2019

*Penulis adalah anggota ekstrakurikuler jurnalistik (HSP) atau siswi kelas X IBB 2

 

Pesan dari Pengalaman
Oleh Atyatul Fidlya*

Suara bising dimana-dimana, menambah riuk suasana. Pagi ini, aku dan segerombolan siswa lain diangkut pergi meninggalkan hiruk pikuknya jalan simpang besar. Kami digiring menuju ke sebuah tempat penangkapan oleh pihak berwajib. Memang salahku yang seenaknya membuat kericuhan di tempat umum dengan siswa sekolah lain. Padahal kalau diruntut hanya karena masalah sepele.

Siang ini, kami pun dikumpulkan di aula gedung sekolah. Tak hanya para siswa yang berkumpul, namun beberapa guru sekolahku dan sekolah lain juga ikut bergabung. Kata demi kata yang keluar dari lisan kepala sekolahku berhasil menusuk hatiku. Bagaimana tidak? Semua yang beliau ucapkan menunjukkan pada orang lain bahwa aku ini siswa yang tak patut dicontoh. Akupun merasa bersalah akan hal itu.

Rasa itu melekat kuat sampai ketika aku pulang ke rumah. Terus terngiang-ngiang dalam benak dan telinga. Tak luput dari nada, intonasi, dan kalimat yang berhasil terlupakan. Kejadian di jalan simpang besar membuatku sadar. Tentang pentingnya kerukunan. Dimanapun itu dan sampai kapanpun. Kerukukunan harus ikut serta dalam setiap kehidupan. Menuju sebuah persatuan yang mencegah perpecahan. Hikmah yang aku dapatkan.(af)

Singosari, 21 September 2019

*Penulis adalah anggota ekstrakurikuler jurnalistik (HSP) atau siswi kelas X IBB 2

 

Penyesalan Diri
Oleh Hauriyatul Illiyin*

Malam ini, aku baru saja pulang dari pegajian kitab di ndalem pengasuh. Waktu menunjukkan pukul 00.20 wib. Aku lekas kembali ke kamar dengan mata yang sedikit lengket karena kantuk. Inginku langsung berbaring dan tidur pulas, tapi masih ada tugas yang harus diselesaikan.

Entah ada angin apa yang membuatku malas dini hari ini. Bukannya mengerjakan tugas, aku justru bercakap-cakap asyik sembari ngemil jajanan ringan bersama teman-teman. Kami saling bercerita tentang berbagai pengalaman hingga lupa waktu. Dinginnya angin malam menghembus tubuhku. Seketika bintang-bintang yang menghiasai malam berhasil menyadarkanku. Pagi ini aku masih harus beraktivitas seperti biasa. Sekolah formal. Pukul 03.00 wib aku baru membaringkan badan dan tidur.

Sekitar sejam aku tidur. Pukul 04.00 wib kupaksa mataku untuk terbuka. “Hah, sudah sudah mau subuh?” batinku. Aku langsung bergegas siap-siap untuk jama’ah salat subuh. Memang tidak terlambat, tapi aku tak sadar ketika wirid dibaca. Sampai semua selesai tanpa aku tau. Sesalku. (hai)

Singosari, 21 September 2019

*Penulis adalah anggota ekstrakurikuler jurnalistik (HSP) atau siswi kelas X MIA 1

 

Lelah, Tak Apa
Oleh Aisyah Firyal*

Namaku Lisa. Aku salah satu santriwati ponpes yang terletak di daerah Lawang, Malang. Aku bersama santriwati lain mempunyai aktivitas rutin tiap tahunnya. Ziarah wali. Malam ini aku tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Aku mendapat antrian mandi lebih awal dan bisa segera bersiap-siap untuk pergi ziarah.

Kami berangkat pukul 06.00 wib dengan menaiki bus. Ziarah pun berjalan dengan lancar sampai menuju beberapa rute tempat tujuan. Namun, pukul 22.30 wib keadaan berubah ketika menuju Surabaya. Ternyata masih ada dua rute yang belum dikunjungi sesuai rencana awal. Sedangkan, esok pagi harus sudah sampai ponpes lagi. Aku pun mulai merasa bosan dan tidak nyaman karena ac bus terlalu dingin. Ditambah lagi cuaca di luar sedang turun hujan lebat dan jalanan macet parah.

Kelelahan kami menjadi alasan pengasuh memutuskan untuk istirahat di rest area terminal bus Sunan Ampel. Seusai dari makam Sunan Ampel kami melanjutkan perjalanan pulang. Pengasuh memutuskan untuk menunda dua rute terakhir ziarah. Kami pulang dalam keadaan lelah dan payah. Namun, seburuk apapun perjalanan akan terasa indah ketika bersama orang-orang yang menyenangkan. Aku pun semangat kembali. (hai)

Singosari, 21 September 2019 @aisy_256

*Penulis adalah anggota ekstrakurikuler jurnalistik (HSP) atau siswi kelas X MIA 1

 

September Ke-16
Oleh Ahmad Dawlillah*

Hari ini aku bangun tak biasa. Bangun malam hanya untuk merayakan ulang tahun sendiri. Malam terkesan sunyi. Hanya berisik detak jarum jam yang tak tau diri. Banyak harap yang kusampaikan pada Tuhan. Tentu doa baik yang diharapkan.

Saat salat Subuh aku benar-benar tak khusyuk. Membayangkan setelah wirid bakal di peluk. Diucapkan selamat ulang tahun atau setidaknya didoakan panjang umur. Namun, kenyataan tetaplah kenyataan. Taka da yang special seusai salaman sampai sarapan. Hati yang sedikit kecewa karna kedua orang tua lupa hari lahir anaknya. Berangkatlah aku ke sekolah sambil mecoba menenangkan diri dengan baca mantra. “Ulang tahun bukan hal yang special, ia hanya hari seperti biasa.” Tujuh jam di sekolah hanya terus-terusan berikrar seperti itu. Ah, kacau!

Semua gelisah di sekolah, terbayar saat sampai rumah. Adik lelaki yang lagi lucu-lucunya memberikan kotak berbungkus merah. Kubuka dengan cepat. Isinya buku yang sangat ingin kupunya sebelumnya. Sayang, uang tak pernah ada. Sepetember ke-16 yang luar biasa. Terima kasihku padamu dan semua. Kalian hebat. Suasana hangat. (ad)

Singosari, 21 September 2019 @manusia1.bait

*Penulis adalah anggota ekstrakurikuler jurnalistik (HSP) atau siswa kelas X MIA 2

 

Pekerjaan Rumah
Oleh Ahmad Syaifurrijal*

Namaku Bejo. Umurku 15 tahun. Rumahku di daerah Lawang, Malang. Aku adalah salah satu dari sekian siswa yang tidak terlalu suka mengerjakan PR. Aku pun mencoba untuk selalu acuh pada PR. Tapi? Itu sedikit sulit.

Hari ini hari Jumat. Aku mempunyai dua PR yang belum kukerjakan, yaitu Fiqih dan Seni Budaya. Sesampainya di sekolah dan saat pelajaran Fiqih, aku pun begitu kebingungan dan gusar. Aku memutuskan untuk mencontek pekerjaan milik teman. Hingga, nilai fiqih yang kudapat hanya 60. Aku pun spontan untuk bergegas mengerjakan tugas Seni Budaya pada jam berikutnya. Berharap tidak kejadian yang sama untuk kedua kalinya. Namun, seusai pekerjaan Seni Budayaku dikoreksi guru, ternyata nilainya hanya 50. Parah! Terulang kembali.

Aku pun sempat berfikir untuk membenahi diri. Berkali-kali, batinku akan selalu rajin mengerjakan PR dan belajar dengan serius. Namun, masih ada segumpal rasa malas yang sulit kumusnahkan. Aku pun mencoba untuk membuangnya. Aku berusaha dan terus akan berusaha. Semangatku kini bergejolak. (as)

Singosari, 21 September 2019

*Penulis adalah anggota ekstrakurikuler jurnalistik (HSP) atau siswa kelas X IIS 1

 

Oh Ternyata
Oleh Aliyyah Fikrotun Nisa*

Hari ini cuaca dingin sekali. Meski tak turun hujan, namun mentari juga tak ingin menampakkan sinarnya. Di teras rumahku, dengan lembutnya angin membelai epidermis kulitku. Suasana yang cocok untuk meneguk segelas teh buatan ibu. Akupun meminta tolong ibuku untuk membuatkan teh hangat.

Ibu membawakan secangkir teh hangat. Setelah kuambil, langsung kuteguk teh buatan ibuku. Alangkah terkejutnya saat tegukkan pertama sampai di kerongkonganku. Mataku dengan spontan menutup dan sedikit menahan rasa yang aneh. Sambil kukernyitkan dahi dengan sekejap pula. Ternyata, teh buatan ibu asin rasanya. Sepertinya ibu salah memasukkan gula dengan garam. Namun, teh sedikit demi sedikit kuhabiskan. Aku tidak mau mengatakannya pada ibu.

Di sela-sela berbincang dengan ibu, aku baru sadar ternyata belum baca doa saat meneguk teh tadi. “Apa mungkin Allah SWT menegurku dengan rasa asin teh buatan ibu?” batinku bergejolak. Mulai hari ini aku akan selalu mengingat doa dan pesan-pesan ibu. Alhamdulillah. (afn)

Singosari, 21 September 2019 @alyyahnisa

*Penulis adalah anggota ekstrakurikuler jurnalistik (HSP) atau siswi kelas XI MIA 2

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *