LAPISAN PERBUATAN MANUSIA

وَاِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَاِنَّهٗ يَعْلَمُ السِّرَّ وَاَخْفٰى

“Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (Q.S. Thaha [20]: 7)

 

Nilai-Nilai Pendidikan:
Pertama, lapisan pertama perbuatan manusia adalah perbuatan yang dapat dilihat oleh orang lain. Dalam konteks ini, rentan sekali disusupi riya’ atau sum’ah. Istilah sosiologinya, ada peluang terjadi dramaturgi. Yaitu penampilan lahiriah, tidak sesuai dengan fakta sesungguhnya. Bagaikan manusia bertopeng yang menutupi wajah aslinya. Misalnya, seorang resepsionis, bisa menampilkan ekspresi wajah senyum dan tutur kata lembut, sekalipun hatinya sedang susah. Demikian halnya, seorang pelawak bisa tertawa satu jam penuh, padahal dia baru saja kehilangan keluarga tercintanya. Oleh sbeab itu, jangan mudah menilai seseorang berdasarkan penampilan lahiriahnya saja. Istilah populernya, “don’t judge the book by its cover”.
Kedua, lapisan kedua perbuatan manusia adalah perbuatan yang hanya diketahui oleh diri sendiri. Perbuatan inilah yang sesungguhnya mencerminkan kualitas nyata seseorang. Oleh sebab itu, al-Qur’an sering mengaitkan konsep ketakwaan dengan lapisan perbuatan ini. Jika ada seseorang yang tetap taat di kala sedang sendirian, maka sungguh dia benar-benar orang yang taat; karena saat itu dia tidak memiliki tujuan lain yang tergolong riya’, sum’ah atau sekadar mengejar citra belaka.
Ketiga, lapisan ketiga perbuatan manusia adalah perbuatan yang sudah terlupakan. Otak manusia hanya menyimpan “file-file” kehidupan yang memorable, entah dalam konotasi positif, seperti menjadi juara kelas; maupun dalam konotasi negatif, seperti menjadi korban bully (perundungan). Oleh sebab itu, manusia perlu memberikan makna khusus pada setiap pengalaman hidupnya; agar menjadi memori indah yang tak mudah terlupakan.
Keempat, Terkadang, lapisan ketiga perbuatan manusia, bisa distimuli oleh pengalaman tertentu, seolah-olah mengalami deja vu. Hal ini dikarenakan lapisan ketiga perbuatan manusia tersebut, sudah tenggelam di alam bawah sadar manusia. Ia tidak hilang, hanya terlupakan. Misalnya, mencium bau perfum seseorang, lalu teringat pada ibunya yang sudah wafat dulu juga menggunakan parfum yang sama. Oleh sebab itu, manusia membutuhkan “jangkar-jangkar” yang dapat membantunya mengakses kembali lapisan ketiga ini. Misalnya, berfoto dengan kiainya, agar senantiasa ingat terhadap pesan-pesan sang kiai.
Kelima, seluruh lapisan perbuatan manusia tersebut, diketahui oleh Allah SWT dan akan dimintai pertanggung-jawaban di akhirat. Oleh sebab itu, manusia perlu menunjukkan kualitas terbaik dalam ketiga lapisan perbuatan tersebut, agar secara agregat  mendapatkan poin maksimal. Tips praktisnya adalah bersikap terpuji saat di depan publik, maupun saat di ruang privat. Keselarasan antar keduanya merupakan bukti kejujuran yang berpotensi mengantarkan seseorang pada surga, sebagaimana uraian yang disabdakan Rasulullah SAW.
Senin, 26 Agustus 2019
ros2
Rosidin
www.dialogilmu.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *