MENGUASAI KETERAMPILAN HIDUP

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ ۗ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَاٌ مِّنْ قَوْمِهٖ سَخِرُوْا مِنْهُ ۗ قَالَ اِنْ تَسْخَرُوْا مِنَّا فَاِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُوْنَ ۗ

“Dan mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, Jika kamu mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami).” (Q.S. Hud [11]: 38)

Nilai-nilai Pendidikan:
Pertama, kata shana’a bermakna pekerjaan yang dilakukan secara terampil; dengan kata lain “keterampilan” atau skill. Membuat kapal yang baik, membutuhkan skill khusus, karena harus mempertimbangkan bahan-bahan yang membuat kapal dapat berlayar di atas perairan; dan tidak mudah tenggelam saat terkena gelombang air.
Kedua, al-fulk bermakna kapal besar; berbeda dengan safinah yang bermakna kapal kecil. Kapal besar dibutuhkan oleh Nabi Nuh AS untuk menyelamatkan populasi umat manusia dan binatang, dari bencana banjir bandang yang akan ditimpakan kepada kaum beliau yang kafir. Hal ini mengisyaratkan bahwa keterampilan yang dimiliki seseorang, seharusnya difungsikan untuk kemaslahatan umat manusia dan lingkungan sekitar. Bukan malah menghancurkan manusia dan lingkungan sekitar, sebagaimana keterampilan membuat bom yang digunakan untuk tindak terorisme.
Ketiga, masyarakat yang mengidap kebencian, iri hati atau tidak mengerti; cenderung mudah menghina keterampilan baru yang ditunjukkan seseorang. Oleh sebab itu, setiap kreativitas dan inovasi, selalu mendapatkan penentangan dari masyarakat atau oknum masyarakat, sebaik apapun motivasi yang melatar-belakanginya. Misalnya, program fullday school, K-13, BPJS, dan sebagainya; masih sering diperdebatkan, bahkan ditentang.
Keempat, mengingat setiap keterampilan selalu berisiko mendapatkan cibiran, kritikan, bahkan penentangan; seharusnya semua itu tidak menghentikan langkah seseorang untuk menguasai keterampilan tertentu yang disenangi, selama dia menetapi panduan syariat. Atas dasar itu, berbagai keterampilan hidup yang diajarkan di SMK, Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut dan Universitas; sah-sah saja dalam pandangan Islam, selama selaras dengan panduan syariat.

Kelima, membalas cibiran masyarakat atas keterampilan yang kita miliki, tidak harus dilakukan melalui perang kata-kata; melainkan dapat dibuktikan dengan prestasi nyata. Membalas kata dengan kata, hanya akan menjadi debat kusir tak berkesudahan; sedangkan membalas kata dengan bukti nyata, akan membungkam orang yang mencibir. Sebagaimana kaum Nabi Nuh AS yang dulu mencela, akhirnya bungkam seribu bahasa, saat mengetahui bahwa kapal tersebut menjadi sarana penyelamat dari bencana banjir bah.

Sabtu, 24 Agustus 2019

ros
Rosidin
www.dialogilmu.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Chat Sekarang
1
Hubungi Kami
MA ALMAARIF SINGOSARI
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu mengenai informasi PPDB ?