MOTIVASI BERAMAL

 

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰ خِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖ ۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ

“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (Q.S. al-Syura [42]: 20)

Nilai-nilai Pendidikan:

Pertama, al-Qur’an mengilustrasikan amal bagaikan menanam. Dengan demikian, orang yang tidak beramal, bagaikan orang yang tidak menanam. Adalah fantasi belaka jika dia mengharapkan panen. Sedangkan orang yang beramal, bagaikan orang yang menanam. Dia bisa sukses memanen amalnya, bisa pula gagal panen; sebagaimana realita yang dialami petani.

Kedua, ada orang yang menanam demi investasi masa depan, sembari memanfaatkan sebagian hasilnya pada masa kini. Ini ilustrasi orang yang beramal dengan tujuan ukhrawi. Di akhirat mendapatkan investasi pahala, di dunia mendapatkan kesuksesan. Misalnya, orang bekerja demi melaksanakan perintah Allah SWT, mendapatkan pahala ukhrawi dan penghasilan duniawi.

Ketiga, ada orang yang menanam hanya untuk kepentingan masa kini, tanpa memedulikan masa depan. Ini ilustrasi orang yang beramal dengan tujuan duniawi. Berpeluang sukses di dunia, namun tidak memiliki investasi pahala ukhrawi. Misalnya, orang bekerja mengejar penghasilan, tanpa peduli halal-haram maupun kewajiban ibadah.

Keempat, Allah SWT Maha Adil lagi Dermawan. Kepada orang yang beramal demi duniawi saja, Allah SWT Maha Adil, sehingga berkenan memberinya kesuksesan. Misalnya, banyak pemilik diskotek, kasino atau pengedar narkoba, sukses menjadi kaya raya. Sedangkan kepada orang yang beramal demi ukhrawi, Allah SWT Maha Dermawan, sehingga berkenan menganugerahkan pahala yang melampaui standar amal. Misalnya, beramal shalih di dunia selama 60 tahun; mendapatkan anugerah surga selama-lamanya.

Kelima, baik amal duniawi maupun ukhrawi, sama-sama berisiko gagal panen. Misalnya, pengedar narkoba berisiko tertangkap, bahkan bisa tewas tertembak, sehingga gagal menjadi kaya. Demikian halnya, orang bersedekah berisiko riya’, mengungkit-ungkit pemberian hingga menyakiti hati penerima sedekah, sehingga hanguslah pahala sedekahnya.

Rabu, 21 Agustus 2019
Rosidin
www.dialogilmu.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Chat Sekarang
1
Hubungi Kami
MA ALMAARIF SINGOSARI
Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu mengenai informasi PPDB ?